Jumat, 09 Mei 2014

Teman adalah Hadiah

Teman adalah hadiah dari yang di atas buat kita.

Seperti hadiah, ada yang bungkusnya bagus dan
ada yang bungkusnya jelek. Yang bungkusnya
bagus punya wajah rupawan, atau kepribadian
yang menarik. Yang bungkusnya jelek punya
wajah biasa saja, atau kepribadian yang biasa
saja, atau malah menjengkelkan.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada
yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa
yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika
berbagi rasa dengannya, ketika kita tahan
menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita
dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa
bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai
kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu
dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu
lagi mencintai, justru karena ia tidak merasakan
cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita
tangkap darinya seringkali justru sikap penolakan,
dendam, kebencian, iri hati, kesombongan,
amarah, dll.

Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan
mencoba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu
bahwa itu semua BUKAN-lah karena mereka pada
dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya
memberikan cinta karena justru ia membutuhkan
cinta kita, membutuhkan empati kita, kesabaran
dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka
terdalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana bisa kita mengharapkan seseorang
yang terluka lututnya berlari bersama kita?
Bagaimana bisa kita mengajak seseorang yang
takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan
ketakutan terhadap airlah yang mesti
disembuhkan, bukan mencaci mereka karena
mereka tidak mau berlari atau berenang bersama
kita. Mereka tidak akan bilang bahwa "lutut"
mereka luka atau mereka "takut air", mereka akan
bilang bahwa mereka tidak suka berlari atau
mereka akan bilang berenang itu membosankan
dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan bilang:
"Menari itu tidak menarik"
"Tidak ada yang cocok denganku"
"Teman-temanku sudah lulus semua"
"Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku"
"Kisah hidupku membosankan"

Mereka tidak akan bilang:
"Aku tidak bisa menari"
"Aku membutuhkan kamu denganku"
"Aku kesepian"
"Aku butuh diterima"
"Aku ingin didengarkan"

Mereka semua hadiah buat kita, entah
bungkusnya bagus atau jelek, entah isinya bagus
atau jelek. Dan jangan tertipu oleh kemasan.
Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita
tahu hadiah sesungguhnya yang sudah
disiapkanNya buat kita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar